RESUME MATERI FAKULTAS KESEHATAN
MATERI I
Catur Wulandari,S.S.T,M.Gizi
TEMA
Peran Mahasiswa Kesehatan Dalam Penelitian Dan Pengabdian kepada masyarakat
Mahasiswa kesehatan memegang peranan strategis dalam pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya pada dua pilar penting: penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Kedua aspek ini tidak hanya menjadi kewajiban akademik, tetapi juga merupakan sarana pengembangan diri dan kontribusi nyata bagi masyarakat luas. Melalui keterlibatan aktif dalam penelitian dan pengabdian, mahasiswa tidak hanya mempraktikkan ilmu yang telah mereka pelajari, tetapi juga membentuk karakter sebagai tenaga kesehatan yang kompeten, kritis, dan berempati.
1. Peran Mahasiswa dalam Penelitian
Penelitian adalah pondasi utama dalam pengembangan ilmu pengetahuan, termasuk di bidang kesehatan. Mahasiswa kesehatan memiliki peluang besar untuk terlibat dalam aktivitas penelitian yang berdampak, baik sebagai pelengkap proses pembelajaran maupun sebagai bagian dari pengembangan inovasi di sektor kesehatan.
Beberapa bentuk peran mahasiswa dalam penelitian meliputi:
🔹 Sebagai Asisten Peneliti
Mahasiswa dapat terlibat dalam proyek penelitian yang dilakukan oleh dosen atau peneliti senior. Peran ini memungkinkan mereka untuk memahami secara langsung proses metodologis dalam penelitian, mulai dari penyusunan instrumen, pengumpulan data, pengolahan data, hingga penyusunan laporan. Pengalaman ini menjadi bekal berharga untuk mengembangkan kemampuan berpikir ilmiah dan sistematis.
🔹 Melakukan Penelitian Mandiri
Selain terlibat sebagai asisten, mahasiswa juga bisa melakukan penelitian secara mandiri. Biasanya dilakukan dalam bentuk tugas akhir, skripsi, atau proyek kecil di lingkungan kampus dan masyarakat. Contohnya seperti survei mengenai pola hidup sehat, tingkat pengetahuan masyarakat tentang penyakit tertentu, atau studi kasus tentang masalah gizi di lingkungan sekitar.
🔹 Menulis dan Mempublikasikan Karya Ilmiah
Mahasiswa yang menghasilkan penelitian berkualitas didorong untuk mempublikasikan hasilnya di jurnal ilmiah nasional maupun internasional. Proses ini memberi pemahaman tentang etika ilmiah, standar penulisan akademik, serta pentingnya berbagi pengetahuan dengan komunitas ilmiah yang lebih luas.
🔹 Mengembangkan Solusi Inovatif
Penelitian juga menjadi wadah untuk mengembangkan solusi kreatif atas masalah kesehatan. Mahasiswa bisa berinovasi, misalnya dengan menciptakan alat bantu pemeriksaan sederhana, aplikasi kesehatan, atau pendekatan promosi kesehatan yang lebih efektif dan sesuai kebutuhan masyarakat.
2. Peran Mahasiswa dalam Pengabdian kepada Masyarakat
Pengabdian kepada masyarakat merupakan bentuk nyata penerapan ilmu yang dimiliki mahasiswa kesehatan. Tujuannya adalah membantu masyarakat dalam meningkatkan kualitas kesehatan secara langsung melalui edukasi, pelayanan, dan pemberdayaan.
Bentuk-bentuk peran mahasiswa dalam pengabdian kepada masyarakat antara lain:
🔹 Melakukan Edukasi dan Penyuluhan Kesehatan
Mahasiswa dapat menyampaikan informasi tentang topik-topik kesehatan seperti pentingnya imunisasi, pola makan sehat, bahaya merokok, atau cara mencegah penyakit menular. Kegiatan ini bisa dilakukan dalam bentuk seminar, kampanye, media sosial, atau penyuluhan langsung di sekolah, puskesmas, dan tempat umum. Mahasiswa menjadi agen perubahan yang menyampaikan informasi yang benar dan mudah dipahami masyarakat.
🔹 Memberikan Pelayanan Kesehatan Gratis
Dalam kegiatan sosial seperti bakti kesehatan, posyandu, atau pemeriksaan kesehatan massal, mahasiswa bisa membantu melakukan pemeriksaan dasar seperti cek tekanan darah, kadar gula darah, atau memberikan konsultasi ringan. Kolaborasi dengan puskesmas, rumah sakit, dan organisasi sosial sangat penting dalam kegiatan ini.
🔹 Memberdayakan Masyarakat
Pengabdian tidak hanya sebatas memberikan layanan, tetapi juga mendidik masyarakat agar mandiri dalam mengelola kesehatan. Mahasiswa dapat melatih kader kesehatan, ibu rumah tangga, atau kelompok pemuda untuk menjalankan program kesehatan berbasis masyarakat seperti sanitasi lingkungan, pengelolaan sampah, atau gaya hidup sehat.
🔹 Advokasi Berbasis Data
Dengan latar belakang data yang diperoleh dari penelitian, mahasiswa juga dapat terlibat dalam advokasi kebijakan publik. Misalnya dengan menyuarakan pentingnya peraturan baru tentang sanitasi di sekolah, akses layanan kesehatan yang adil, atau perlindungan kelompok rentan seperti ibu hamil dan balita.
Kesimpulan
Melalui peran aktif dalam penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, mahasiswa kesehatan tidak hanya menjadi pelaksana teori, tetapi juga pembaharu yang menciptakan dampak sosial. Mereka dilatih untuk berpikir ilmiah, bertindak empatik, dan terlibat langsung dalam menyelesaikan berbagai tantangan kesehatan yang dihadapi masyarakat. Keterlibatan ini juga membentuk karakter mahasiswa menjadi tenaga kesehatan yang berintegritas, inovatif, dan siap berkontribusi secara nyata dalam pembangunan kesehatan nasional.
MATERI II
Atik Qurrota A'yunin Al Isyrofi,S.KIM.,M.KES
TEMA
FROM ORGANIZATION TO LEADERSHIP : PERSONAL BRANDING FOR THE NEXT GENERATION
Pendahuluan
Topik ini membahas tentang transformasi penting dalam perjalanan karier, yaitu bagaimana seseorang dapat berkembang dari hanya menjadi anggota organisasi biasa (seperti staf, karyawan, atau anggota tim) menjadi seorang pemimpin yang berpengaruh. Transformasi ini tidak terjadi secara instan, melainkan memerlukan kesadaran diri, strategi, dan kerja keras.
Salah satu kunci utama dalam proses transformasi tersebut adalah personal branding atau pembangunan merek pribadi. Personal branding bukan lagi sekadar tren, tetapi telah menjadi alat strategis untuk menonjol, mendapatkan kepercayaan, dan membuka jalan menuju kepemimpinan di era digital.
Apa Itu Personal Branding dan Mengapa Penting?
Personal branding adalah cara seseorang membentuk persepsi publik tentang dirinya, baik secara personal maupun profesional. Ini mencakup nilai-nilai yang dipegang, keahlian, kepribadian, kontribusi, dan cara seseorang berinteraksi dengan lingkungan sosialnya — baik secara langsung maupun melalui media digital.
Di era yang penuh dengan informasi dan persaingan ketat seperti sekarang, membangun personal branding yang kuat menjadi sangat penting, khususnya bagi generasi muda yang ingin memimpin perubahan.
Beberapa alasan mengapa personal branding penting:
-
Pembeda di Tengah Persaingan (Differentiation):
Dengan begitu banyak orang yang memiliki latar belakang pendidikan atau pekerjaan yang serupa, personal branding membantu Anda menonjol. Orang lebih mudah mengingat mereka yang memiliki karakter dan citra yang kuat. -
Meningkatkan Visibilitas dan Peluang:
Personal branding yang konsisten dan kuat meningkatkan eksposur Anda di lingkungan profesional. Hal ini membuka peluang untuk mendapatkan proyek strategis, posisi penting, dan bahkan kesempatan kepemimpinan. -
Membangun Kredibilitas dan Kepercayaan:
Ketika personal branding Anda mencerminkan keahlian dan kejujuran, orang akan mempercayai Anda. Kredibilitas ini sangat penting dalam kepemimpinan, karena pemimpin yang dipercaya akan lebih mudah mempengaruhi dan menggerakkan orang lain.
Langkah-Langkah Membangun Personal Branding untuk Kepemimpinan
Membangun personal branding tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Dibutuhkan proses yang bertahap dan penuh kesadaran.
1. Self-Discovery (Mengenali Diri Sendiri)
Langkah pertama adalah mengenal siapa diri Anda sebenarnya, apa kekuatan Anda, dan ke mana Anda ingin pergi.
-
Nilai Inti (Core Values):
Nilai adalah prinsip hidup yang menjadi landasan sikap dan perilaku Anda. Contoh: integritas, kepedulian, inovasi, kejujuran, kerja sama. Nilai ini akan menjadi fondasi dari seluruh citra diri Anda. -
Keahlian dan Kekuatan Unik (Unique Skills):
Kenali apa yang membedakan Anda dari orang lain. Ini bisa berupa hard skills (misalnya: analisis data, desain, manajemen proyek) maupun soft skills (misalnya: empati, komunikasi, kepemimpinan, problem solving). -
Tujuan dan Visi Pribadi:
Apa yang ingin Anda capai? Ingin dikenal sebagai pemimpin inovatif? Pemimpin yang peduli terhadap tim? Visi akan membantu Anda membangun merek yang terarah dan bermakna.
2. Crafting Your Narrative (Membangun Cerita dan Citra Diri)
Setelah mengenal diri, Anda perlu merangkai narasi pribadi yang dapat menggambarkan siapa Anda, apa yang Anda perjuangkan, dan mengapa itu penting. Cerita ini menjadi dasar dari segala bentuk komunikasi Anda—baik saat berbicara, menulis, maupun dalam media sosial.
-
Gunakan narasi ini untuk mengisi bio LinkedIn, CV, pidato, maupun saat networking.
-
Cerita yang kuat akan membantu orang lain memahami nilai dan potensi Anda dalam waktu singkat.
3. Aktivasi dan Promosi (Mempublikasikan Merek Pribadi)
Membangun personal branding bukan hanya di dalam pikiran atau tulisan—tetapi juga perlu ditunjukkan secara aktif kepada publik.
Beberapa cara untuk mengaktifkan dan mempromosikan personal branding:
-
Aktif di Platform Profesional:
Gunakan media sosial profesional seperti LinkedIn untuk menunjukkan keahlian Anda. Bagikan pemikiran, artikel, proyek, atau insight yang relevan dengan bidang Anda. -
Networking (Jejaring):
Bangun relasi yang autentik dan saling menguntungkan. Hadiri seminar, workshop, atau acara industri. Jalin koneksi yang dapat membantu Anda tumbuh dan belajar. -
Demonstrasi Kepemimpinan Sejak Dini:
Jangan tunggu jabatan formal untuk menjadi pemimpin. Tunjukkan kepemimpinan melalui tindakan kecil—seperti memimpin proyek kelompok, menjadi mentor rekan junior, atau mengorganisasi acara komunitas.
Tantangan Personal Branding bagi Generasi Muda
Generasi muda saat ini menghadapi berbagai tantangan yang unik dalam membangun dan menjaga personal branding, terutama karena dunia digital yang sangat terbuka.
Beberapa tantangan dan solusinya:
-
Konsistensi Citra Online dan Offline:
Pastikan bahwa apa yang Anda tampilkan di media sosial sesuai dengan sikap dan tindakan Anda di dunia nyata. Ketidaksesuaian akan membuat orang meragukan kredibilitas Anda. -
Otentisitas (Authenticity):
Jangan mencoba menjadi orang lain hanya karena ingin terlihat “ideal”. Justru, kekuatan dari personal branding terletak pada keaslian dan kejujuran. Jadilah versi terbaik dari diri Anda sendiri. -
Manajemen Reputasi Digital:
Selalu sadar bahwa apa pun yang Anda unggah ke internet bisa bertahan selamanya. Lakukan audit digital secara berkala—periksa kembali konten, komentar, atau foto-foto lama yang bisa merusak citra profesional Anda.
Kesimpulan
Personal branding adalah investasi jangka panjang dalam karier dan kehidupan profesional. Bagi generasi muda yang ingin berkembang dari peran organisasi biasa menjadi pemimpin masa depan, personal branding bukan hanya pilihan, melainkan keharusan.
Melalui langkah-langkah seperti mengenali diri sendiri, membangun narasi yang kuat, dan menunjukkan kepemimpinan dalam tindakan nyata, seseorang dapat membangun reputasi yang otentik, berpengaruh, dan berkesinambungan.
Personal branding bukan tentang membangun citra palsu, melainkan tentang menemukan siapa diri Anda sebenarnya, dan mempromosikannya dengan cara yang strategis dan tulus, sehingga orang lain bisa melihat potensi kepemimpinan dalam diri Anda — bahkan sebelum Anda menjabat sebagai pemimpin secara formal.
MATERI III
Erricha Daring Irbah,S.Gz
TEMA
Future ready mindset: Jadi Mahasiswa Kesehatan Yang Kuat Nggak Gampang Kaget Sama Dunia
1. Pengantar: Mengapa Future Ready Mindset Penting?
Di era yang serba cepat, kompleks, dan tidak pasti—khususnya di dunia kesehatan—memiliki pengetahuan medis saja tidak cukup. Mahasiswa kesehatan dihadapkan pada dunia kerja yang penuh dengan dinamika, perubahan teknologi, pandemi global, dan ekspektasi masyarakat yang semakin tinggi.
Oleh karena itu, dibutuhkan "Future Ready Mindset", yaitu pola pikir yang siap menghadapi masa depan dengan kesiapan mental, kemampuan beradaptasi, ketahanan emosional, dan komitmen untuk belajar terus-menerus. Ini adalah mentalitas baru yang harus dibangun sejak duduk di bangku kuliah agar ketika lulus, mahasiswa tidak hanya sekadar “siap kerja”, tapi juga siap berkembang, memimpin, dan bertahan dalam tekanan.
Definisi Future Ready Mindset
Future Ready Mindset adalah sikap mental dan pola pikir yang memampukan individu, khususnya mahasiswa kesehatan, untuk:
-
Mengantisipasi perubahan, bukan hanya bereaksi terhadapnya.
-
Menyesuaikan diri dengan tantangan baru yang tak terduga.
-
Terus belajar dan berkembang, bahkan setelah lulus kuliah.
-
Mengelola stres dan tekanan, tanpa kehilangan arah dan tujuan.
-
Memimpin perubahan dengan empati, strategi, dan kolaborasi.
Pilar-Pilar Future Ready Mindset
Future Ready Mindset dibangun di atas empat pilar utama yang saling melengkapi dan harus dilatih secara berkelanjutan oleh setiap mahasiswa kesehatan.
1. Pilar Adaptabilitas dan Fleksibilitas
Definisi:
Kemampuan untuk beradaptasi secara cepat dan efisien terhadap perubahan lingkungan, sistem, teknologi, maupun kondisi pasien yang tidak terduga.
Konteks Dunia Kesehatan:
-
Suatu hari Anda mungkin menangani pasien dengan penyakit umum, namun esoknya bisa menghadapi wabah baru atau protokol medis yang berubah drastis.
-
Contoh nyata: saat pandemi COVID-19, banyak tenaga kesehatan harus mengubah cara kerja secara drastis, bahkan mengadopsi teknologi telemedicine secara mendadak.
Cara Mengembangkan:
-
Belajar Mandiri: Tidak hanya bergantung pada materi kuliah, tapi aktif mencari tahu perkembangan medis terbaru.
-
Terbuka terhadap Teknologi Baru: Siap mencoba penggunaan alat digital, aplikasi kesehatan, atau sistem manajemen data pasien terbaru.
-
Ikut Studi Kasus & Simulasi: Melatih respons cepat dan tepat dalam situasi medis darurat atau tidak biasa.
Tujuan:
Melatih mental untuk tidak kaku, tidak panik, dan tidak menolak perubahan, karena dalam dunia nyata, perubahan adalah satu-satunya hal yang pasti.
2. Pilar Critical Skills (Keterampilan Kritis dan Interpersonal)
Definisi:
Kemampuan yang melampaui aspek teknis—termasuk komunikasi, empati, pemecahan masalah, dan kerja tim—yang sangat dibutuhkan di dunia kerja.
Konteks Dunia Kesehatan:
-
Pasien bukan hanya "kasus medis", tetapi manusia dengan latar belakang emosional, sosial, budaya, dan ekonomi yang kompleks.
-
Kerja tim lintas profesi menjadi standar dalam pelayanan kesehatan (dokter, perawat, apoteker, analis, ahli gizi, dst).
Cara Mengembangkan:
-
Komunikasi Efektif: Latihan komunikasi asertif dan empatik kepada pasien dan sesama tenaga medis.
-
Kolaborasi: Aktif dalam organisasi, komunitas kesehatan, atau proyek kolaboratif antarmahasiswa lintas prodi.
-
Empati dan EQ (Emotional Intelligence): Latih kemampuan mengenali dan memahami emosi diri sendiri dan orang lain.
Tujuan:
Membentuk profesional yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga cerdas secara sosial dan emosional, agar mampu memimpin dan bekerja dalam tim dengan baik.
3. Pilar Lifelong Learning (Pembelajaran Sepanjang Hayat)
Definisi:
Komitmen untuk terus memperbarui pengetahuan dan keterampilan sepanjang karier profesional, bahkan setelah lulus dari bangku kuliah.
Konteks Dunia Kesehatan:
-
Ilmu kesehatan sangat dinamis—penyakit baru, teknologi baru, prosedur baru selalu bermunculan.
-
Lulusan yang tidak belajar ulang berisiko menjadi usang dan tidak relevan dalam waktu singkat.
Cara Mengembangkan:
-
Keingintahuan Tinggi: Biasakan membaca jurnal ilmiah, mengikuti berita medis, dan mencari tahu hal-hal baru.
-
Mengikuti Seminar/Webinar: Terlibat dalam forum profesional dan diskusi ilmiah.
-
Bangun Jaringan Profesional: Hubungi alumni, dosen, praktisi, atau mentor sebagai tempat bertanya dan belajar informal.
Tujuan:
Menjadi tenaga kesehatan yang selalu update, tidak cepat puas, dan terus berusaha menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.
4. Pilar Resiliensi (Ketahanan Mental dan Emosional)
Definisi:
Kemampuan untuk bangkit kembali dari kegagalan, stres, tekanan, atau pengalaman traumatis yang tak terhindarkan di dunia kesehatan.
Konteks Dunia Kesehatan:
-
Menghadapi kematian pasien, kelelahan kerja, konflik antar tim, atau situasi bencana adalah bagian dari kenyataan profesi.
-
Burnout menjadi masalah serius di kalangan tenaga medis.
Cara Mengembangkan:
-
Manajemen Stres: Temukan mekanisme coping yang sehat—berolahraga, menulis jurnal, meditasi, atau curhat ke orang terpercaya.
-
Dukungan Sosial: Jangan ragu untuk mencari bantuan dari konselor, dosen pembimbing, atau komunitas kampus.
-
Membuat Batasan Sehat: Pelajari kapan harus istirahat dan bagaimana menyeimbangkan kehidupan pribadi dan profesional.
Tujuan:
Agar tidak mudah hancur secara mental, tetap tenang dalam tekanan, dan mampu menjadi penolong yang tangguh bagi orang lain.
Kesimpulan: Future Ready Mindset adalah Investasi Jangka Panjang
Memiliki Future Ready Mindset artinya Anda tidak hanya siap untuk bekerja, tapi siap untuk berkembang, bertahan, dan memimpin. Dunia kesehatan tidak akan menjadi lebih mudah—justru akan terus berubah. Maka, mindset yang siap untuk belajar, berubah, dan bangkit adalah bekal utama yang harus dibentuk mulai dari sekarang.
Mahasiswa kesehatan yang memiliki Future Ready Mindset akan menjadi tenaga profesional yang:
Mampu menghadapi ketidakpastian dengan kepala dingin.
Fleksibel dalam menghadapi teknologi dan sistem baru.
Tanggap terhadap dinamika pasien dan tim kerja.
Tidak berhenti belajar setelah lulus.
Tangguh secara mental dan emosional dalam tekanan.
Future Ready Mindset bukanlah mata kuliah, tetapi sebuah karakter. Bukan pula sekadar teori, tetapi harus dipraktikkan, diasah, dan dibangun setiap hari.
WEB :
Falkultas Kesehatan: https://fkes.unusa.ac.id/
Unusa:https://unusa.ac.id/
Facebook : https://www.facebook.com/unusaofficialfb
Instagram : https://www.instagram.com/unusa_official/
Youtube : https://www.youtube.com/@unusa_official
Twitter ( X ) : https://x.com/unusa_official?lang=en
Tiktok : https://www.tiktok.com/@unusa_official
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar